Pendidikan karakter memegang peranan penting dalam membentuk sikap dan nilai-nilai yang mendasari semangat nasionalisme di kalangan mahasiswa. Di tengah tantangan globalisasi dan dinamika sosial yang ada, penguatan nasionalisme melalui pendidikan karakter menjadi kunci untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, bagaimana pendidikan karakter dapat berkontribusi dalam memperkuat semangat nasionalisme di lingkungan kampus?
š”**” Apa langkah konkret yang bisa diambil oleh pihak kampus, dosen, serta mahasiswa sendiri untuk mewujudkan nilai-nilai nasionalisme ini dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dibahas agar kita dapat menemukan solusi yang efektif dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh rasa cinta tanah air dan tanggung jawab terhadap bangsa.
Nasionalisme merupakan landasan penting dalam membangun bangsa yang berdaulat, berkarakter, dan bersatu. Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa, nasionalisme menjadi pengikat kuat yang menumbuhkan rasa cinta tanah air, persatuan dan kesatuan, serta tanggung jawab terhadap bangsa dan negara. Nasionalisme memiliki daya integratif yang kuat dalam menyatukan keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia. Menurut Lan & Manan (2011), ikatan budaya yang menyatukan rakyat Indonesia menjadi satu bangsa dalam ikatan negara-bangsa mampu menjadi daya tahan yang kuat dalam menghadapi arus globalisasi yang cenderung berdampak pada peniadaan batas-batas teritorial dan kedaulatan bangsa.Nilai-nilai nasionalisme tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi harus ditanamkan dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang berkesinambungan. Nilai yang terkandung dalam nasionalisme Indonesia seperti persatuan dan kesatuan, perasaan senasib, toleransi, kekeluargaan, tanggung jawab, sopan santun dan gotong royong (Supriyoko, 2001:2). Hal ini sejalan dengan pendapat Saādiyah (2012:48) bahwa nilai-nilai pendidikan karakter berpengaruh pada pembentukan sikap nasionalisme diantaranya: nasionalisme, tanggung jawab, disiplin, toleransi, kerja keras dan peduli sosial. Penanaman nasionalisme penting dilakukan sejak dini dilingkungan sekolah, jika tidak maka Ki Hadjar Dewantara (1922) menginggatkan dengan sebuah petuahnya ā Anak-anak Indonesia harus diajarkan mencintai bangsanya. Jika tidak, suatu saat mereka bisa menjadi musuh bangsanya sendiri…ā. Maksud dariĀ petuah diatas yakni anak-anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dikenalkan nilai-nilai cinta tanah air, sejarah perjuangan, budaya, dan identitas nasional. Tanpa penanaman nilai tersebut, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang asing terhadap bangsanya sendiri. Penanaman ini dilakukan salah satunya dilingkungan pendidikan yaitu lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua yang paling dekat dengan anak setelah lingkungan keluarga. Hal ini sejalan dengan pendapat Sulianti, dkk (2020) bahwa pengembangan moral peserta didik di lingkungan sekolah merupakan suatu hal yang wajib dilakukan agar peserta didik memiliki sikap yang sesuai dengan nilai-nilai atau karakter Pancasila. Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk karakter nasionalisme. Menurut Alyschiaraa & Hendri (2024), implementasi penguatan pendidikan karakter nasionalisme bertujuan untuk meningkatkan karakter nasionalisme peserta didik. Pembelajaran PPKn berfungsi untuk membangun serta meningkatkan karakter kepribadian siswa, seperti toleransi, nasionalisme, gotong royong, demokrasi, jujur, mandiri, disiplin, dan tanggung jawab. Sebagaimana pendapat Ki Hadjar Dewantara (Tim Dosen Ketamansiswaan, 2014:28) yang menyatakan bahwa pendidikan anak didik berlangsung dalam tiga lingkungan pendidikan atau disebut Tri Pusat Pendidikan yaitu lingkungan keluarga yang mencakup pendidikan budi pekerti, keagamaan, dan kemasyarakatan secara informal, pendidikan sekolah yang mencakup pendidikan mengenai ilmu pengetahuan dan budi pekerti secara formal, lingkungan masyarakat yang mencakup pengembangan keterampilan, latihan kecakapan, pengemban bakat secara non formal. Seiring sejalan dengan pendapat tersebut Lickona (1991:51) pendidikan karakter melalui kombinasi dari pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral, siswa dapat mengembangkan karakter yang lebih berbudi pekerti, bijaksana, dan bertanggung jawab. Hal ini juga membantu siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki dampak positif dalam lingkungan sosial mereka. Dengan kata lain, pendidikan karakter tidak hanya tentang mengetahui apa yang baik, tetapi juga tentang merasakannya dan mengaplikasikannya dalam tindakan sehari-hari untuk menciptakan perubahan positif dalam diri mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga timbul pemikiran bahwa nasionalisme ituĀ tidak membeda-bedakan ras, suku,maupunĀ agama. Sebagaimana prinsip nasionalisme tentang kesatuan, hasratĀ untukĀ mencapaiĀ kemerdekaanĀ danĀ Ā Ā hasratĀ untukĀ mencapaiĀ kehormatanĀ bangsa (Fathurrochman,2021).
Pentingnya membangun hubungan yang baik antara sekolah dengan orang tua siswa agar memudahkan pendidik dalam membangun iklim yang selaras dalam membantu perkembangan karakter siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Ramdan dan Fauziah (2019) yang menyatakan bahwa membangun komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua menjadi faktor terpenting dalam pengembangan karakter peserta didik sehingga iklim yang dibangun dengan antara pendidikan yang diberikan di sekolan dan di rumah bisa selaras. Orang tua memiliki komitmen terhadap aturan baik di lingkungan rumah dan sekolah. Misalkan dengan memberikan contoh datang lebih awal ke sekolah, mengikuti program sekolah, menghormati orang yang lebih tua, membantu pekerjaan rumah, dan mendengarkan nasehat dengan baik. Orang tua maupun guru memotivasi anak untuk menaati peraturan yang ada dan berusaha memberikan fasilitas yang dibutuhkan dalam mengembangkan karakter anak. Penguatan pendidikan karakter adalah ruh utama dalam pendidikan nasional yang bertujuan memcetak generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Menurut Apriani (2020) Keberhasilan penguatan pendidikan karakter ditentukan oleh tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan pendidikan memiliki peran yang penting dan pokok dalam penanaman dan pengembangan karakter anak sehingga harus terlibat kerja sama yang mendukung agar tujuan penguatan pendidikan karakter tercapai.
2. Kesimpulan Kekuatan Karakter Nasionalisme
Nasionalisme merupakan kekuatan karakter yang sangat penting dalam membangun bangsa yang berdaulat, bersatu, dan berkarakter. Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya, nasionalisme berperan sebagai pengikat yang kuat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, persatuan, dan kesatuan. Nilai-nilai nasionalisme yang mencakup persatuan, toleransi, gotong royong, dan tanggung jawab harus ditanamkan dan dikembangkan melalui pendidikan berkesinambungan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan karakter berperan penting dalam memperkuat sikap nasionalisme, di mana nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, dan peduli sosial dapat diperkenalkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Keberhasilan penguatan pendidikan karakter dalam membangun nasionalisme ditentukan oleh kolaborasi yang efektif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan membangun komunikasi yang baik antara kedua pihak, pendidik dapat menciptakan iklim yang selaras untuk mendukung perkembangan karakter siswa. Oleh karena itu, nasionalisme yang menekankan kesatuan, kebanggaan terhadap budaya, dan kehormatan bangsa sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera.